Contoh Kasus Kecerdasan Sosial

Standar

Adinda adalah seorang mahasiswi tingkat dua di suatu universitas negeri yang ada di Bandung. Adinda tergolong mahasiswi yang cerdas di kampusnya, nilai-nilai ujiannya selalu mendapatkan A. Akan tetapi dengan capaian nilai tinggi di kampusnya, Adinda menjadi orang yang sombong. Ia berpendapat bahwa segala sesuatunya dapat Ia kerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan sifatnya yang seperti itu, menjadikan teman-teman kampusnya enggan untuk dekat ataupun berbicara dengannya. Dan ia pun menjadi kesulitan dalam berinteraksi dengan teman-temannya akibat sifat sombong tersebut.

Dalam kasus di atas, dapat kita simpulkan bahwa kecerdasan seseorang tidak hanya dinilai dari tingkat kecerdasan (IQ) yang dimilikinya, melainkan dinilai dari sejauh mana seseorang dapat berinteraksi dengan baik di dalam lingkungannya. Sebab kemampuan seseorang untuk dapat berinteraksi di dalam lingkungannya merupakan bagian dari kecerdasan yang sangat berpengaruh dengan tingkat kecerdasan lainnya. Bayangkan jika di dalam hidup kita tidak ada orang yang bisa kita ajak bekerja sama, pasti kita tidak akan bisa apa-apa karena kesuksesan itu tidak berasal dari diri sendiri, melainkan adanya bantuan dan dukungan dari orang lain yang menjadikan kesuksesan itu dapat kita raih.

Iklan

Komponen-Komponen Kecerdasan Sosial

Standar

Didalam menerapkan keterampilan kecerdasan sosial yang baik sangat diperlukan banyak hal yang mendukung agar mencapai interaksi yang efektif. Dengan itu Goleman, (2007) menyatakan adanya dua komponen utama dalam membangun kecerdasan sosial yang baik yaitu kesadaran sosial dan fasilitas sosial yang masing-masing komponen tersebut terdiri dari beberapa indikator, yaitu sebagai berikut : 

Kesadaran sosial
Kesadaran sosial merujuk pada spektrum yang merentang dari secara instan merasa keadaan batiniah orang lain sampai memahami perasaan dan pikirannya, untuk ”mendapatkan” situasi sosial yang baik meliputi :

  1. Empati dasar
    Suatu kemampuan untuk merasakan isyarat-isyarat emosi nonverbal dengan orang lain dalam berinteraksi dengan orang lain. Dan kemampuan merasakan emosi orang lain berupa sebuah kemampuan jalan-rendah yang berlangsung cepat dan spontan atau muncul dan gagal dengan cepat dan otomatis. 
  2. Penyelarasan
    Perhatian yang melampaui empati sesaat ke kehadiran yang bertahan untuk melancarkan hubungan yang baik, yaitu dengan menawarkan perhatian total kepada seseorang dan mendengarkan sepenuhnya, berusaha memahami orang lain lebih daripada menyampaikan maksud tertentu. Mendengarkan secara mendalam seperti itu kelihatannya merupakan kemampuan alamiah. Meskipun begitu, seperti halnya dengan dimensi-dimensi kecerdasan sosial lainnya orang bisa memperbaiki keterampilan penyelarasannya yang baik.
  3. Ketepatan empatik
    Ketepatan empatik dibangun di atas empati dasar namun menambahkan suatu pengertian lagi yaitu adanya suatu kemampuan untuk memahami pikiran, perasaan dan maksud orang lain dalam berinteraksi dengan orang lain sehingga tercipta interaksi yang baik dan harmonis.
  4. Pengertian sosial
    Pengertian sosial merupakan aspek keempat dari kesadaran sosial adalah pengetahuan tentang bagaimana dunia sosial itu sebenarnya bekerja. Orang yang memiliki kemahiran dalam proses mental ini tahu apa yang di harapkan dalam kebanyakan situasi sosial. Kemahiran sosial ini dapat di lihat pada diri mereka yang secara tepat membaca arus-arus politik dalam sebuah organisasi. 

 

Fasilitas sosial
Semata-mata dengan merasakan bagaimana orang lain merasa, atau mengetahui apa yang mereka pikirkan tidak akan menjamin interaksi yang kaya, maka dari itu adanya fasilitas sosial, namun fasilitas sosial juga bertumpu pada kesadaran sosial untuk memungkinkan interaksi yang mulus dan efektif, yang meliputi : 

  1. Sinkroni
    Berinteraksi secara mulus pada tingkat nonverbal. Sebagai landasan fasilitas sosial, sinkroni adalah batu fondasi yang menjadi landasan di bangunnya aspek-aspek lain. Kegagalan dalam sinkroni merusak kompetensi sosial, membuat interaksi menjadi tidak selaras. Sinkroni memungkinkan kita bergerak dengan anggun melalui tarian nonverbal bersama orang lain dengan tanda-tanda sinkroni mencakup rentang interaksi yang terkonsentrasi secara harmonis, dari senyuman atau mengangguk pada waktu yang tepat untuk semata-mata mengarahkan tubuh kita pada orang lain.
  2. Presentasi diri
    Suatu kemampuan untuk mempresentasikan atau menampilkan diri sendiri secara efektif untuk menghasilkan kesan yang di kehendaki. Salah satu hal yang di pandang penting dalam presentasi diri yaitu adanya kemampuan untuk ”mengendalikan dan menutupi ”. Orang yang mahir dalam pengendalian itu merasa percaya diri dalam segala situasi sosial, memiliki kemampuan untuk tindakan yang pada tempatnya. Mereka dengan mudah bisa tampil tenang dan penuh kendali diri.
  3. Pengaruh
    Adanya suatu kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar dapat membentuk hasil interaksi sosial yang baik. Dengan menggunakan kemampuan bicara yang hati-hati dan adanya kendali diri dan mendekati orang lain dengan perilaku profesional, tenang dan penuh perhatian.
  4. Kepedulian
    Kepedulian adalah kemampuan seseorang untuk berbelas kasihan, peduli akan kebutuhan orang lain dan melakukan tindakan yang sesuai dengan hal itu. Kepedulian mendorong kita untuk mengambil tanggung jawab apa yang perlu di lakukan dengan baik dan akan menimbulkan orang-orang yang prihatin, yaitu seseorang yang paling bersedia mengambil waktu dan berusaha untuk membantu seorang koleganya.
    Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa untuk membangun kecerdasan sosial yang baik kedua komponen diatas sangat diperlukan dan saling berhubungan. Kesadaran sosial dengan merasakan bagaimana orang lain merasa, atau mengetahui apa yang mereka pikirkan tidak akan menjamin interaksi yang kaya, maka dari itu adanya fasilitas sosial, fasilitas sosial juga bertumpu pada kesadaran sosial untuk memungkinkan interaksi yang mulus dan efektif.

 

Referensi:

http://muhajirmurlan-asri.blogspot.com/2011/03/kecerdasan-sosial.html

Komponen dan Indikator Social Intelligence

Standar

a. SI (Social Intelligence) Internal

– Keinginan untuk bersosial dari dalam diri

– Menjalin hubungan yang baik dengan orang lain

– Mengorbankan kepentingan diri demi orang lain

b. SI (Social Intelligence) Eksternal

– Adanya pengaruh untuk bersosialisasi

– Menyelesaikan permasalahan dalam berinteraksi Sosial

– Bersosial karena adanya faktor yang lain (supaya mendapat sanjungan dan pujian dari orang lain)

Referensi:

Materi ajar Personality Development oleh Ibu Aat Sriati

Langkah Praktis Mengembangkan Kecerdasan Sosial

Standar

  1. Kita dapat mengembangkan perhatian kepada orang lain. Ketika seseorang mementingkan diri sendiri, orang itu tidak akan mungkin untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial. Budidaya semacam ini merupakan langkah awal yang penting untuk menjadi cerdas secara sosial.
  2. Kita dapat belajar bagaimana menafsirkan isyarat yang kita terima dari orang lain. Untuk memahami aliran dinamika interpersonal dan kesesuaian dengan orang lain dalam pengaturan sosial, kita perlu memiliki dan menggunakan kemampuan untuk menafsirkan ekspresi wajah, bahasa, dan faktor-faktor budaya yang relevan. Cotohnya jika saya ingin bergaul dengan tetangga saya yang baru saja beremigrasi dari bangsa lain, saya harus mencoba untuk belajar sedikit tentang budaya mereka untuk menghindari ketidaksengajaan menyinggung perasaan mereka.
  3. Kita bisa memantau reaksi kita sendiri dalam situasi sosial. Seseorang yang memiliki kecenderungan untuk mengeluarkan apa pun yang datang ke pikirannya dapat berakhir dalam kesulitan selama percakapan sensitif di rumah atau bekerja karena ia hanya mementingkan pendapatnya saja. Orang yang cerdas secara sosial akan cenderung untuk memberikan respon lebih mendalam dalam situasi seperti ini, dan pada gilirannya ini akan membantu interaksi yang lebih lancar dengan orang lain.

Beberapa dari kita cerdas secara sosial dalam domain tertentu, tetapi tidak yang lain. Mungkin kita perlu menumbuhkan empati dalam interaksi kita dengan orang lain. Atau mungkin kita harus lebih berempati dengan keluarga. Apapun kekuatan pribadi kita dan kelemahan mengenai kecerdasan sosial, kita tau bahwa memiliki kecerdasan sosial itu akan membantu kehidupan kita, dan hidup orang-orang di sekitar kita menjadi lebih baik.

Referensi:

Snow, Nancy E. Virtue as Social Intelligence: An Emprically Grounded Theory. New York: Routledge,2010.

http://www.psychologytoday.com/blog/ethics-everyone/201209/cultivating-social-intelligence

Kutipan

“Everybody who flashed the signs of loyalty he took to be loyal. Everybody who flashed the signs of intelligence he took to be intelligent. And so he had failed to see into his daughter, failed to see into his wife, failed to see into his one and only mistress—probably had never even begun to see into himself”
― Philip Roth, American Pastoral

“Everybody who …

Pengertian Kecerdasan Sosial

Standar

Pada saat ini banyak sekali orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang cerdas. Cerdas disini dinilai oleh mereka hanya dalam arti memiliki tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi saja, sehingga seringkali orang tua menyuruh anaknya untuk belajar terus-menerus tanpa mementingkan aspek sosial anak tersebut. Padahal menurut Gardner kecerdasan itu bersifat multidimensi, dan kunci kecerdasan itu akan terus meningkat sepanjang hidup seseorang. Maka dari itu kecerdasan seseorang tidak hanya dinilai dari tingkat kecerdasan (IQ) yang dimilikinya, melainkan dinilai dari sejauh mana seseorang dapat berinteraksi dengan baik di dalam lingkungannya yang dapat juga disebut sebagai kecerdasan sosial.

Kecerdasan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya. Menurut buku berjudul Virtue as Social Intelligence yang ditulis oleh Nancy Snow dijelaskan bahwa kecerdasan sosial juga dapat didefinisikan sebagai pengetahuan, kemampuan kognitif, dan kasih sayang (misalnya empati) yang memungkinkan kita untuk berhasil menavigasi dunia sosial. Kecerdasan sosial memungkinkan kita untuk hidup dengan baik dalam domain sosial. Individu yang cerdas secara sosial mampu menangkap isyarat-isyarat sosial tertentu dan memiliki kemampuan kognitif dan emosional yang tepat untuk berinteraksi dengan orang lain. Mengembangkan kecerdasan sosial sangatlah penting jika kita ingin berkembang dan mencapai tujuan hidup.

Pada tahun 2005, Karl Albrecht mengusulkan sebuah model social intelligence yang terdiri dari lima poin dalam bukunya Social Intelligence: Ilmu Baru Sukses, yaitu “SPACE”

1.       Situational Awareness (Kesadaran Situasional)

Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain.

2.      Presense (kemampuan membawa diri)

Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda bentangkan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya.

3.      Authenticity (Autensitas)

Sinyal dari perilaku kita yang akan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini amat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan berjejak relasi yang mulia nan bermartabat.

4.      Clarity (Kejelasan)

Aspek ini menjelaskan sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara renyah nan persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Acap kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara cantik sehingga atasan atau rekan kerja kita ndak berhasil diyakinkan. Kecerdasan sosial yang produktif barangkali memang hanya akan bisa dibangun dengan indah manakala kita mampu mengartikulasikan segenap pemikiran kita dengan pemikiran yang jernih.

5.      Empathy (empati)

Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain. Dan juga sejauh mana kita memiliki ketrampilan untuk bisa mendengarkan dan memahami maksud pemikiran orang lain. Kita barangkali akan bisa merajut sebuah jalinan relasi yang guyub dan meaningful kalau saja kita semua selalu dibekali dengan rasa empati yang kuat terhadap sesama rekan kita.

Referensi:

Snow, Nancy E. Virtue as Social Intelligence: An Empirically Grounded Theory. New York: Routledge, 2010.

www.karlalbrecht.com/siprofile/siprofiletheory.htm

http://strategimanajemen.net/2009/03/02/merajut-kecerdasan-sosial/